LINTAS NUSANTARA.ID, KAUR – Kondisi jembatan gantung Air Kelam Desa pelajaran II Kecamatan Tanjung Kemuning memprihatinkan. Pasalnya, jembatan dibangun pada tahun 1999 ini belum tesentuh rehab sama sekali. Besi penyangga lantai jembatan serta besi penahan dinding jembatanpun banyak yang putus akibat dimakan karat karena usia.
Padahal, jembatan gantung ini adalah akses utama penyebarangan petani mengangkut hasil pertanian diseberang. Jembatan dengan panjang lebih dari 25 meter dengan ketinggian diatas sungai bernapal ini 10 meter. Sedangkan, beban yang ditampung jembatan ini setiap hari mencapai puluhan ton.
Sedikitnya, 180 hektare area persawahan menghasilkan ratusan ton gabah, ratusan ton Tandan Buah Segar (TBS), ratusan ton getah karet serta hasil palawija petani lainnya setiap hari melintasi jembatan gantung dengan lebar dua meter tersebut. Dengan kondisi seperti ini, masyarakat pengguna jembatan sangat khawatir akan terjadi bencana jembatan putus. Saat ada yang melintas diatasnya, jembatan putus maka dapat dipastikan akan menelan korban jiwa.

Usulan perbaikan jembatan ini sudah sering disampaikan, namun belum ada respon dari pemerintah. Untuk itu, tahun ini diharapkan dapat diakomodir setidaknya menggunakan anggaran penanggulangan bencana atau tanggap darurat bencana.
“Kami sangat mengharapkan rehab jembatan. Jika perlu dibangun secara permanen agar kendaraan roda empat dapat masuk ke lahan pertanian diseberang,” ungkap Buyung Karnapi, S. Pd yang pernah menjabat sebagai Camat Kelam Tengah, Selasa (2/3/2021).
Senada dengan itu, tokoh pemuda desa setempat, Pringki Haryono mengungkapkan, jembatan ini adalah akses utama bagi petani. Lahan pertanian diseberang cukup luas, sehingga sangat dibutuhkan akses transportasi yang lebih memadai. Ratusan hektare lahan sawah dan kebun kelapa sawit maupun karet. Semua bertumpuh pada jembatan gantung ini.
“Bertahun-tahun, petani hanya mengandalkan jembatan gantung tersebut. Sementara, kondisinya sangat memprihatinkan dan butuh perhatian serius,” ungkapnya.(amr)






