Sampah Di Kabupaten Kaur, Sepele Tapi Rumit

oleh -7,299 views
oleh
Gambar hanya pemanis belaka.(foto: Net)

SAMPAH merupakan hal yang dipandang masyarakat bukanlah hal yang menakutkan. Sampah juga dinilai masyarakat sebagai persoalan sepele. Namun, dalam penanganannya sangat rumit.

Seperti halnya persoalan sampah di Kabupaten Kaur yang selalu meninggalkan cerita panjang yang tak kunjung ada solusi.

Dibeberapa wilayah desa menjadi tempat pembuangan sampah yang setiap hari menggunung. Padahal, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Kaur telah menyiapkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Tanjung Besar Kecamatan Kaur Selatan.

Sampah terlihat menggunung dibeberapa desa di Kabupaten Kaur, khususya lahan kosong yang tak berpenghuni. Masyarakat menjadikan lahan kosong tersebut sebagai tempat pembuangan sampah rumah tangga.

Akibatnya, masalah sampah juga kerap menimbulkan konflik sosial ditengah masyarakat. Pemda Kaur dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kaur sudah berupaya mengatasi sampah yang menggunung. Salah satunya, menyiapkan armada angkut sampah dan menempatkan petugas kebersihan alias “pasukan kuning”.

Sayangnya, meskipun upaya Pemda melalui DLH Kaur menangani persoalan sampah tidak mampu menghasilkan solusi terbaik. Sampah tetap saja menggunung tak terangkut ke TPA.

Ada beberapa faktor yang menghambat bagi DLH menangani sampah tersebut. Kurangnya, armada angkut berupa kendaraan roda empat, kendaraan roda tiga hingga petugas kebersihan menjadi kendala terbesar yang dihadapi pemerintah dalam menangani masalah sampah.

Kabupaten Kaur terdiri dari 192 desa dan tiga kelurahan dengan 15 kecamatan, luas wilayah mencapai 92, 75 KM². Luasnya wilayah yang dimiliki menyulitkan petugas kebersihan untuk mengatasi tumpukkan sampah. Dengan hanya memiliki satu armada angkut, yakni kendaraan roda enam (dump truk, red) yang sudah berusia senja membuat penanganan sampah kian miris.

Pemda Kaur hingga saat ini belum mampu menambah jumlah armada angkut serta penambahan pasukan kuning. Karena, kondisi keuangan daerah yang tidak memungkinkan.

Sampah menggunung bukan hanya menjadi persoalan serius yang rumit. Tetapi, sampah juga menebar ancaman penyebaran berbagai virus penyakit kepada manusia.

Sampah juga merusak keindahan kota, kawasan pemukiman pun ikut terlihat kumuh. Meskipun dipandang sepele, namun sampah adalah masalah yang rumit untuk diurai khususnya di Kabupaten Kaur.

Sampah menggunung juga dipengaruhi oleh minimnya kesadaran masyarakat untuk berprilaku baik dengan membuang sampah ketempatnya.

Bukan hanya lahan kosong yang menjadi sasaran tumpukkan sampah. Aliran sungai, jembatan, siring bahkan laut ikut menjadi lokasi pembuangan sampah rumah tangga. Akibatnya, sampah menimbulkan dampak kerusakan pada lingkungan hidup. Ekosistem air pun terganggu karena keberadaan sampah yang memenuhi permukaan air.

Sampah-sampah ini juga menjadi sumber meningkatnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) serta Malaria di Kabupaten Kaur.

Minimnya armada angkut sampah pun menuai kritik pedas masyarakat. Apalagi, hampir setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) memiliki mobil dinas mewah sebagai kendaraan operasional para pejabatnya.

Untuk satu unit armada angkut sampah baru tidak mampu dianggarkan oleh Pemda Kaur. Hal ini tentu melahirkan asumsi negatif masyarakat terkait keseriusan pemerintah menangani masalah sampah.

Keseriusan Pemda dan lembaga legislatif dalam penanganan sampah terus dipertanyakan masyarakat. Peran anggota legislatif tentu sangat besar, setidaknya dapat mendorong pemerintah untuk menyiapkan anggaran pengadaan armada angkut sampah.

Baik kendaraan roda empat, enam maupun kendaraan roda tiga. Selain itu, mendorong Pemda melalui dinas terkait menambah jumlah personil kebersihan. Namun, itu semua tentu harus dibarengi persetujuan anggaran oleh legislatif.

Dalam penanganan sampah tersebut, dibutuhkan solusi yang tepat dan bijak. Para tokoh agama, tokoh pemuda maupun penggerak kemasyarakatan dapat bersama-sama menjadi motor penanganan sampah.

Tokoh agama misalnya, menyosialisasikan pola hidup bersih, sebagaimana yang dimaksud dalam “Kebersihan Sebagian Dari Iman”. Tokoh pemuda, karang taruna dapat menjadi garda terdepan dalam penanganan sampah.

Pengelolaan sampah rumah tangga menjadi pupuk kompos, daur ulang sampah plastik menjadi souvenir yang bernilai ekonomis. Menggalakkan bank sampah disetiap desa, menjadikan TPA sebagai lapangan pekerjaan bagi masyarakat kecil. Banyak jenis sampah yang bernilai ekspor, tentu semua itu dapat membantu pemerintah dalam penanganan sampah.

Persoalan sampah bukan hanya menjadi beban pemerintah semata, namun juga tanggungjawab masyarakat untuk mulai berprilaku sehat.

Menyiapkan tempat sampah yang bertujuan mempermudah petugas pengangkut untuk membawa ke TPA. Dengan rasa tanggungjawab bersama, persoala sampah dapat diatasi dengan bijak. Persoal sepela tapi rumit ini mampu diselesaikan dengan baik.(**)

No More Posts Available.

No more pages to load.