KAUR ││ LINTAS NUSANTARA.ID – Bencana alam banjir dan tanah longsor beberapa waktu terakhir kerap melanda kawasan Kabupaten Kaur. Perubahan siklus alam menjadi kambing hitam dalam setiap kali bencana alam melanda. Namun, ada secarik pertanyaan dibenak manusia, salah siapa bencana alam terjadi???
Bak syair lagu, “mungkin alam mulai bosan dengan tingkah kita” penggalan syair ini dapat menjadi intropeksi diri setiap umat yang hidup dialam semesta. Penggundulan hutan yang kian merajalela, hutan yang menghijau sebagai tonggak bumi berubah menjadi hamparan perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu faktor terjadinya bencana.
Habisnya pohon besar yang menjadi penyangga bumi, membuat gerusan air kian cepat menimbulkan bencana alam. Longsor terjadi dimana-mana, menimbulkan rasa cemas yang begitu mendalam.
Dahulu, banjir dan tanah longsor hanya dilihat dan didengar melalui televisi maupun media. Bencana dialami kota maju akibat penyempitan lahan dan hilangnya keseimbangan alam. Namun, beberapa tahun terakhir, bencana alam dirasakan langsung oleh masyarakat.
Hutan sebagai penyangga alam mulai terkikis habis dan berganti hamparan kebun kelapa sawit. Kondisi alam pun mulai kehilangan keseimbangannya. Curah hujan tinggi menyebabkan gerusan tanah yang berujung pada tanah longsor.
“Mari kita berbenah untuk lebih serius menjaga keseimbangan alam. Menjaga hutan tetap lestari guna mencegah erosi tanah,” ucap Kaman Muda (38) warga Kecamatan Tanjung Kemuning.(amr)






