KAUR || LINTAS NUSANTARA.ID – Hingga akhir tahun 2022, harga getah karet stagnan. Petani karet pun mulai bermigrasi ke jenis komoditi lain yang lebih menjanjikan. Meskipun tidak membutuhkan perawatan khusus, namun karet tidak lagi mampu menopang kebutuhan hidup petani.
Mayoritas petani karet mulai membabat habis tanaman karet dan mengganti dengan jenis lain. Petani beralih ke tanaman jagung pipil yang dinilai lebih ekonomis. Lahan kebun karet menjelma menjadi hamparan kebun jagung akibat murahnya harga jual.
“Hingga saat ini, harga jual getah karet tak kunjung naik. Karet hanya dihargai oleh pengepul Rp 5.000 perkilogram. Padahal, untuk mengumpulkan getah karet sangat sulit dan membutuhkan waktu,” ungkap petani karet asal Kecamatan Tanjung Kemuning, Ilhan (53).
Karet bukan lagi menjadi komoditas unggulan bagi petani guna menopang ekonomi keluarga. Karena harga karet sepanjang tahun tak kunjung membaik. Bahkan, lebih cenderung mengalami penurunan harga.
Saat ini populasi tanaman karet pun mulai berkurang hingga 60 persen. Tidak adanya kepastian harga jual hasil penyadapan membuat petani karet beralih ke komoditi lainnya. Pembabatan tanaman karet mengalami peningkatan drastis.
“Lahan kebun karet sudah menjelma sebagai hamparan kebun jagung pipil. Karena nilai ekonomisnya lebih baik dibanding karet,” paparnya.(amr)





