TREN GAYA HIDUP HIJAU MENDORONG PERKEMBANGAN AGRIBISNIS PERTAMANAN

oleh -435 views
oleh
Foto : Halaman Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(Sumber: Dokumen Pribadi Penulis)

Oleh : Nabila Azzahra
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Fakultas Sains dan Tekhnologi
Prodi Agribisnis

BANYAK masyarakat Indonesia yang mulai memiliki ketertarikan dan hobi mengoleksi tanaman hias di rumah mereka. Sekarang ditengah padatnya pemukiman penduduk, hadir sebuah keindahan estetika dari tanaman pemanis beragam warna yang mempercantik rumah mereka.

Tidak hanya itu, perumahan-perumahan modern di Indonesia saat ini juga identik dengan banyaknya tanaman hias, pohon rindang, pot bunga, ataupun taman kecil di depan halaman setiap rumah.

Bahkan gedung-gedung perkantoran di perkotaan yang monoton dan tidak memiliki halaman luas juga dipenuhi oleh tanaman hias dengan menggunakan teknik vertical garden.

Seolah-olah keindahan estetika saat ini tidak hanya berfokus pada model gedung, tetapi juga fokus dengan ruang terbuka hijau seperti taman dan pot-pot indah berisi komoditas hijau.

Hal ini menimbulkan tren baru dikalangan masyarakat Indonesia, yaitu tren gaya hidup hijau yang viral di media sosial.

Hobi dan ketertarikan masyarakat dengan tanaman hias ini berawal dari masa pandemi Covid-19 di tahun 2020. Pandemi virus terus menyebar dan menyebabkan penduduk diseluruh penjuru dunia termasuk indonesia harus melakukan segala aktivitas mereka secara online dan berdiam diri di rumah (stay at home). Namun, pemberlakuan kebijakan stay at home ini ternyata berdampak pada kondisi psikologis masyarakat.

Pada masa pandemi banyak masyarakat yang mengalami stress, jenuh, dan tertekan karena hanya berdiam diri di rumah dan tidak dapat bertemu dengan teman atau beraktivitas seperti biasanya.

Berdasarkan data yang dirilis oleh World Health Organization (WHO), pada tahun pertama pandemi Covid-19 terjadi peningkatan kecemasan dan depresi yang dialami oleh masyarakat sebesar 25%.

World Health Organization juga memaparkan bahwa salah satu faktor utama yang menyebabkan peningkatan tersebut adalah tekanan yang belum pernah dialami oleh masyarakat.

Tekanan yang dimaksud adalah isolasi sosial yang diberlakukan pada masa pandemi. Dan menurut laporan WHO golongan masyarakat yang paling terdampak oleh isolasi sosial ini adalah para generasi muda.

Kondisi inilah yang pada akhirnya membuat masyarakat mulai mencari hobi baru yang bisa mereka lakukan di rumah, yaitu mengoleksi tanaman hias dan berkebun. Hobi ini mulai berkembang pesat dan menjadi tren di media sosial saat itu.

Tren tersebut menyebabkan meningkatnya permintaan tanaman hias dan alat berkebun, hingga berdampak pada harga komoditas hijau yang melambung tinggi.

Dilansir dari CNN Indonesia, saat pandemi harga tanaman hias terus menjulang tinggi hingga 10 kali lipat dari harga sebelumnya. Tanaman hias yang awalnya berkisar 100 ribu rupiah mengalami perubahan harga menjadi jutaan rupiah pada masa pandemi.

Disamping itu, guncangan harga tersebut tidak membuat masyarakat berhenti menekuni hobi mengoleksi tanaman hias di masa pandemi. Hal ini sangat kontras dengan kenyataan bahwa ekonomi masyarakat Indonesia pada saat itu sedang tidak baik.

Meskipun pandemi Covid-19 telah berakhir dan sudah berlalu hampir 5 tahun, tren mengoleksi tanaman hias ini tidak ikut meredup. Justru tren ini tetap viral di media sosial dan berevolusi menjadi tren gaya hidup hijau (greenlife style).

Jika kita melihat di platform online pada saat ini, banyak sekali model perumahan, ataupun gedung yang menambahkan detail gaya hidup hijau dibangunan mereka. Mulai dari taman kecil di depan halaman rumah, pot-pot tanaman hias yang menggantung, ataupun diletakkan di sudut ruangan.

Bahkan gedung perkantoran saat ini pun memiliki taman kecil, meletakkan tanaman hias di lobi, ataupun menerapkan teknik vertical garden di tembok mereka.

Fenomena ini disebabkan oleh meningkatnya kesadaran masyarakat modern tentang pentingnya ruang terbuka hijau dan manfaat tanaman bagi daerah perkotaan.

Data yang dilampirkan oleh Air Quality Index pada tahun 2025 menunjukkan bahwa, Indonesia menempati urutan ke 17 dari 143 negara dengan kualitas udara yang buruk.

Tanaman merupakan salah satu makhluk hidup yang dapat membantu mengurangi polusi udara dengan mengubah karbon dioksida menjadi oksigen untuk manusia. Ruang terbuka hijau yang penuh dengan tanaman hias bisa membantu mengurangi polusi udara sekaligus menjadi penambah keindahan estetika ditengah padatnya bangunan perkotaan.

Sejak masa Covid-19 penjualan tanaman hias memang mengalami lonjakan yang sangat pesat, dan hal ini berdampak terhadap perkembangan agribisnis pertamanan. Berdasarkan pustaka penelitian tentang penjualan tanaman hias, terjadi peningkatan penjualan dari tahun 2019 ke tahun 2020.

Agribisnis pertamanan tidak lagi dipandang sebagai kegiatan menjual tanaman hias di pinggir jalan, tetapi menjadi sebuah kegiatan menjual tanaman, ataupun membuat taman yang menghasilkan nilai estetika.

Berkat perkembangan teknologi pun, penjualan dan pemasaran tanaman hias di masa pandemi dapat dilakukan melalui media sosial atau e-commerce secara online yang mempermudah konsumen.

Sekarang tren gaya hidup hijau juga masih mendorong perkembangan agribisnis pertamanan, meskipun tidak sepesat ketika pandemi Covid-19. Tingginya tingkat kesadaran masyarakat tentang ruang terbuka hijau saat ini, membuat sektor pertamanan menjadi sangat kompleks.

Selain permintaan terhadap tanaman hias, para pelaku agribisnis pertamanan juga mendapat permintaan jasa arsitektur landscape, inovasi pembuatan vertical garden, jasa penyewaan tanaman, jasa perawatan tanaman di pot, hingga jasa perawatan taman.

Penjualan tanaman hias saat ini tidak hanya dapat dilakukan secara langsung, tetapi juga dapat dilakukan secara online melalui e-commerce seperti saat masa pandemi. Menurut Kompas.com tren tanaman hias dan pertamanan ditahun 2026 lebih berfokus pada menonjolkan estetika, fungsi, dan gaya hidup.

Berbeda ketika pandemi dimana pasar tanaman hias pada saat itu berfokus pada bentuk daun yang cantik atau bunga yang indah.
Namun ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh agribisnis pertamanan saat ini. Mulai dari masalah inovasi teknologi hingga ekspedisi tanaman hias.

Berkembangnya berbagai teknik pembuatan taman seperti vertical garden memang merupakan solusi untuk lahan sempit. Masalah yang dihadapi pelaku agribisnis terkait ini adalah bagaimana perawatan vertical garden di perkotaan yang memiliki iklim ekstrem dan polusi buruk.

Selain itu, salah satu akspek penting yang harus diperhatikan oleh para pelaku agribisnis pertamanan adalah bagaimana mereka mengemas tanaman hias dan pemilihan ekspedisi agar tanaman yang dibeli oleh konsumen secara online dapat sampai dengan kondisi yang baik.

Tantangan tersebut tentunya dapat menghambat perkembangan agribisnis pertamanan kedepannya, oleh karena itu ada beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.

Untuk permasalahan vertical garden di perkotaan dengan polusi buruk, para pelaku agribisnis dapat focus dengan menggunakan varietas tanaman yang tahan terhadap polusi udara.

Selain itu, para pelaku agribisnis juga dapat mengadaptasi teknologi smart farming pada vertical garden mereka untuk mengatasi masalah perawatan yang sulit.

Sementara masalah distribusi, dapat diatasi dengan mengubah metode pembungkusan tanaman hias dengan mengikat polybag dan memasukkan tanaman hias ke dalam kemasan kardus yang berlubang untuk sirkulasi udara agar tanaman tidak mudah busuk.

Untuk masalah ekspedisi, pelaku agribisnis dapat bekerja sama dengan agensi ekspedisi khusus paket tanaman atau dengan memberlakukan garansi untuk konsumen apabila tanaman hias rusak saat sampai ke tempat tujuan.

Perkembangan agribisnis tanaman hias memang dimulai dari sebuah hobi yang dilakukan oleh masyarakat untuk mengatasi stress, dan kejenuhan dirumah pada masa pandemi. Meskipun pandemi telah berakhir perkembangan agribisnis tidak ikut berhenti.

Justru tren tanaman hias yang awalnya hanyalah hobi ini mulai berkembang menjadi gaya hidup yang mementingkan aspek estetika dan fungsional bagi masyarakat. Memang terdapat beberapa tantangan teknis dalam agribisnis pertamanan, namun dengan kolaborasi teknologi seperti smart farming atau pengemasan adaptif dapat menjadi solusi bagi tantangan tersebut.(**)

No More Posts Available.

No more pages to load.