PMT Belawan dan Kuala Tanjung Catat Arus Peti Kemas 470.419 TEUs hingga Agustus 2026

oleh -166 views
oleh

BELAWAN || LINTASNUSANTARA.ID – Arus peti kemas yang ditangani PT Prima Multi Terminal (PMT) di Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, mencapai 470.419 twenty-foot equivalent units (TEUs) hingga Agustus 2026.

Capaian tersebut tumbuh sekitar 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu berlangsung di tengah tekanan ekonomi global dan perlambatan perdagangan internasional.

PT PMT mencatat, aktivitas distribusi domestik yang masih kuat menjadi salah satu penopang utama arus barang. Selain itu, peningkatan ekspor komoditas dan produk hasil hilirisasi dari sejumlah kawasan industri di Sumatera turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan tersebut (29/09/26).

Pertumbuhan signifikan tercatat pada layanan peti kemas internasional di Terminal 2 Kuala Tanjung. Hingga Agustus 2026, volume peti kemas internasional mencapai 28.951 TEUs, meningkat 276 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Secara keseluruhan, aktivitas bongkar muat peti kemas di terminal tersebut mencapai 50.542 TEUs, atau tumbuh 16 persen secara tahunan.

Peningkatan aktivitas tersebut sejalan dengan kegiatan ekspor-impor serta distribusi bahan baku industri, barang konsumsi, dan kebutuhan manufaktur yang masih menopang aktivitas sektor industri nasional.

Selain layanan peti kemas, layanan barang nonpeti kemas di Terminal Kuala Tanjung juga menunjukkan pertumbuhan. Hingga Agustus 2026, volume barang yang ditangani mencapai 690.578 ton, meningkat 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama PT Prima Multi Terminal Rudi Susanto mengatakan, pertumbuhan arus barang hingga Agustus 2026 menunjukkan aktivitas ekonomi di Sumatera masih berlangsung positif meskipun perdagangan global menghadapi sejumlah tantangan.

“Distribusi domestik masih menjadi penopang utama arus barang. Sementara itu, aktivitas ekspor dari sektor industri pengolahan dan komoditas mulai memberikan kontribusi yang lebih besar,” kata Rudi.

Menurutnya, industri kepelabuhanan masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan jaringan pelayaran internasional, pergeseran rantai pasok global hingga dinamika geopolitik yang dapat berdampak terhadap biaya logistik dan waktu pengiriman barang.

Karena itu, efisiensi operasional menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga daya saing pelabuhan sekaligus memastikan kelancaran arus barang.

PMT mencatat rasio effective time terhadap berthing time (ET/BT) di Terminal Belawan mencapai 85,42 persen. Sementara rasio ET/BT di Terminal Kuala Tanjung tercatat 71,91 persen untuk layanan internasional dan 66,70 persen untuk layanan domestik.

Untuk menjaga kinerja tersebut, PMT melakukan optimalisasi operasional melalui peningkatan utilisasi peralatan bongkar muat, penataan lapangan penumpukan, serta penguatan koordinasi dengan pengguna jasa dan antarterminal.

Aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) juga terus diperkuat melalui inspeksi berkala, standardisasi peralatan operasional serta peningkatan kompetensi tenaga kerja. Langkah tersebut dilakukan untuk mempertahankan target nihil kecelakaan kerja.

Rudi menegaskan, keberadaan pelabuhan tidak terlepas dari kebutuhan distribusi barang dan perkembangan kawasan industri di Sumatera. Menurutnya, peningkatan keandalan layanan pelabuhan menjadi bagian penting dalam mendukung efisiensi rantai pasok.

“Pelabuhan bukan hanya menjadi tempat keluar-masuk barang, tetapi juga bagian dari rantai pasok yang menentukan efisiensi industri. Keandalan dan efisiensi layanan perlu terus ditingkatkan agar pelaku usaha dapat mengendalikan biaya distribusi dan memperkuat daya saing produk Indonesia,” ujarnya.

Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung berada di jalur pelayaran internasional Selat Malaka. Posisi tersebut menjadikan kedua pelabuhan memiliki peran strategis sebagai simpul logistik di wilayah barat Indonesia.

Seiring perkembangan kawasan industri dan keberlanjutan program hilirisasi di Sumatera, kebutuhan terhadap layanan logistik dan kepelabuhanan diperkirakan turut berkembang.

Kondisi tersebut menjadi peluang bagi PMT untuk terus meningkatkan kualitas, efisiensi dan keandalan layanan guna mendukung kelancaran rantai pasok serta aktivitas industri di wilayah Sumatera.

(Gunawan)

No More Posts Available.

No more pages to load.