ASAHAN || LINTASNUSANTARA.ID – Keberadaan Terminal Tipe C Kisaran kini bak bangunan mati. Aktivitas nyaris tak terlihat, hanya beberapa kendaraan pribadi dan sesekali bus antarkota yang melintas.
Seiring dengan punahnya angkutan kota (angkot) dan angkutan pedesaan (angdes), terminal ini kehilangan fungsi utamanya sebagai pusat transportasi darat lokal.
Padahal, Terminal Tipe C Kisaran sempat menjadi denyut nadi mobilitas masyarakat, khususnya yang berasal dari daerah pinggiran menuju pusat Kota Kisaran.
Namun kini, deretan loket kosong, kursi penumpang berdebu, dan lapak pedagang yang tutup mencerminkan mati surinya terminal tersebut.
Menurut pengakuan salah satu petugas jaga terminal, armada angkot dan angdes sudah sangat jarang beroperasi sejak dua tahun terakhir.
“Dulu banyak angdes dari arah Air Joman, Simpang Empat, dan Buntu Pane masuk ke sini. Sekarang sudah nggak ada lagi. Penumpangnya sepi, supirnya beralih profesi,” ujarnya.
Fenomena ini terjadi akibat kombinasi beberapa faktor, mulai dari meningkatnya jumlah kendaraan pribadi, maraknya ojek online, hingga minimnya perhatian pemerintah terhadap pembaruan armada dan sistem operasional angkutan umum konvensional.
Seorang warga Kisaran, Fitri (34), menyayangkan kondisi tersebut. “Sekarang kalau mau ke kota harus naik ojek atau nebeng. Dulu tinggal nunggu angdes lewat, murah dan gampang,” keluhnya.
Kondisi ini turut mempengaruhi ekonomi sekitar terminal. Warung makan dan kios kecil yang dulu ramai oleh para sopir dan penumpang kini tutup satu per satu.
Pemerintah daerah Kabupaten Asahan melalui Dinas Perhubungan mengaku tengah mengkaji langkah revitalisasi angkutan umum berbasis komunitas dan teknologi. Namun hingga kini, belum terlihat implementasi nyata di lapangan.
Jika tidak ada pembaruan sistem transportasi yang inklusif dan terjangkau, bukan tak mungkin terminal-terminal kecil seperti Terminal Tipe C Kisaran akan benar-benar lenyap dari peta transportasi daerah.(asn)







