Kebebasan Berekpresi Di Dunia Digital, Kominfo Webinar Di Bengkulu Selatan

oleh -1.046 views
Literasi digital Kominfo RI dalam rangka cakap di dunia digital.(foto: Kominfo)

LITERASI DIGITAL
KABUPATEN BENGKULU SELATAN – PROVINSI BENGKULU
Rabu, 18 Agustus 2021, Pukul 09.00 WIB

PRESIDEN Republik Indonesia memberikan arahan tentang pentingnya Sumber Daya Manusia yang memiliki talenta digital. Ditindak lanjuti oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Direktorat Pemberdayaan Informatika, Ditjen Aptika memiliki target hingga tahun 2024 untuk menjangkau 50 juta masyarakat agar mendapatkan literasi di bidang digital dengan secara spesifik untuk tahun 2021.

Target yang telah dicanangkan adalah 12,5 juta masyarakat dari berbagai kalangan untuk mendapatkan literasi dibidang digital. Kemkominfo melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika menyelenggarakan kegiatan Webinar Indonesia Makin Cakap Digital di Wilayah Sumatera di 77 Kab/Kota dari Aceh hingga Lampung.

Sebagai Keynote Speaker adalah Gubernur Provinsi Bengkulu yaitu, Dr. drh. H. Rohidin Mersyah, M.M.A., dan Bp. Presiden RI Bapak Jokowi memberikan sambutan pula dalam mendukung Literasi Digital Kominfo 2021.

Hesty Maureen, ST, M. Eng (Founder Principal Paris De La Mode Fashion School), pada pilar Kecakapan Digital mengangkat tema “Tren Pekerjaan dan Usaha Dunia Digital”. Dalam pemaparannya, Hesty menjabarkan jenis pekerjaan yang sangat dicari, meliputi digital marketing, penjualan, pengembangan bisnis, penjualan, seni, kreatif, dan desain grafis, pembelian, manufaktur atau operasi produksi, logistic, IT atau Komputer, software, serta keuangan, akunting. Banyak peluang pekerjaan di era digital, antara lain, Freelancer, Youtuber, Bisnis E-commerce, Dropshiper, Digital Marketing, Trader saham atau investor, Programer, Pengajar, Penerjemah, Blogger, Gamer, Sosial Media Specialist, SEO specialist, dan Konten Kreator.

Perkembangan E-Commerce berdasarkan jenis barang, jumlah uang yang di spend konsumen berdasarkan jenis barang sepanjang 2019, meliputi pakaian dan perawatan wajah, elektronik. makanan dan kebutuhan pribadi, furniture, mainan dan hobi, traveling, musik digital, dan video game.

Dilanjutkan dengan pilar Keamanan Digital, oleh Herman Widi Karyanto, S. SN (Peniliti Bidang Seni Budaya dan Pariwisata di Beberapa Pusat Studi dan Lembaga Penelitian). Herman mengangkat tema “Tips Dan Trick Menjaga Keamanan Privasi Secara Digital”.

Herman membahas kemajuan era digital sangat membantu berbagai bidang pekerjaan keseharian masyarakat, namun masyarakat tetap selalu menjaga privasi datanya agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab terutama saat menggunakan media sosial sebagai supporting tools.

Amankan data, dengan cara pelajari detail program aplikasi yang dipakai, periksa pengaturan privasi jadikan private privacy agar mudah dikontrol, jangan memakai data pribadi untuk diunggah serta gunakan password unik bagi keamanan akun user, serta jika menemukan masalah terhadap aplikasi segera laporkan ke operator penyedia aplikasi.

Langkah aman berselancar digital, meliputi berpikir terlebih dahulu sebelum membagikan, periksa pengaturan privasi dengan siapa berbagi, patuhi etika bersosial media dan berselancar digital, pilih konten produktif dan edukatif, serta gunakan dengan bijak sesuai kebutuhan.

Tips menjaga keamanan privasi, meliputi jangan berikan data pribadi untuk akun tidak dikenal, jangan berikan password bagi siapapun, pilih enkripsi yang kuat untuk password usahakan untuk selalu diganti, aktifitar fitur autentikasi dua faktor, serta menyeleksi permintaan pertemanan.

Pilar Budaya Digital, oleh DR. Rizki Ramadhani, S.Pd.I., M.Pd.I (Ketua STIT Al Qur’aniyah Manna Bengkulu Selatan). Rizki memberikan materi dengan tema “Memahami Multikulturalisme Dalam Ruang Digital”. Rizki membahas Budaya adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok, dan diawariskan terus menerus dari generasi ke generasi.

Transformasi budaya juga bertumbuh dan beralih dengan kemajuan teknologi. Budaya digital di Indonesia, penetrasi internet yang meningkat tajam di Negara Indonesia, ini artinya sebagian besar penduduk indonesia memiliki dan menggunakan media sosial, maka kalau tidak bijak dan cerdas dalam menggunakan ruang digital, media sosial dapat menjadi masalah, pertikaian, perpecahan.

Multikultural dan keberagaman di Indonesia adalah kekayaan yang dimiliki Indonesia, tujuan paham multikulturalisme adalah penghormatan dan penghargaan.
Memahami multikulturalisme di ruang digital dengan perbedaan budaya adalah perbedaan bahasa dan kebiasaaan masyarakat majemuk yang dapat menimbulkan, kesalahpahaman, sensitifitas dengan mengunggah tidak pada waktunya, cyberbullying, tempat bercanda yang berlebihan, unggah tentang SARA, serta egosentris di ruang digital menganggap pendapatnya paling benar.

Manusia memiliki banyak pilihan berinteraksi, jadikan ruang digital untuk mengenal budaya yg berbeda, dengan tidak melecehkan suku, agama dengan berkomunikasi dg baik dan memiliki etika yang baik dalam berinteraksi di dunia digital.

Narasumber terakhir pada pilar Etika Digital, oleh Trimo Ponendri, S.Pd (Wakil Kepala Sekolah Humas SMAN 1 Bengkulu Selatan dan Ketua TIK Kabupaten Bengkulu Selatan). Trimo mengangkat tema “BEBAS NAMUN TERBATAS: BEREKSPRESI DI MEDIA SOSIAL”.

Trimo menjelaskan Media sosial adalah sebuah media daring yang digunakan satu sama lain para penggunanya dengan mudah untuk berpartisipasi, berinteraksi, berbagi, menciptakan blog, jejaring sosial, wiki, serta forum dan dunia virtual tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.

Hal yang terjadi jika kebebasan berekspresi dibebaskan, meliputi pribadi yang buruk, kebencian pada lingkungan sosial, keluarga yang retak, dan disintegrasi bangsa.

Etika adalah hakikatnya sifat manusia sehingga seseorang bisa dikatakan baik, bijak, jahat, susila dan sebagainya. Hukum dikukuhkan oleh penguasa atau pemerintah, UU peraturan dan sebagainya untuk mengatur pergaulan hidup dimasyarakat.

Hal penting diperhatikan dalam berekspresi di media sosial, meliputi ujaran tidak mengandung kebencian dan permusuhan, diksi, mimik, SARA, asusila, dan aman. Media sosial digunakan untuk hal yang positif, seperti sebagai sarana memuliakan sesama, memuliakan bahasa persatuan, sarana berbagi pengetahuan, sarana berkompetisi dan kesantunan, serta sarana meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran.

Webinar diakhiri, oleh Megan Lisandra Elmira (Influencer dengan Followers 12,4 Ribu). Megan menyimpulkan hasil webinar dari tema yang sudah diangkat oleh para narasumber, berupa banyak peluang pekerjaan di era digital, antara lain, Freelancer, Youtuber, Bisnis E-commerce, Dropshiper, Digital Marketing, Trader saham atau investor, Programer, Pengajar, Penerjemah, Blogger, Gamer, Sosial Media Specialist, SEO specialist, dan Konten Kreator.

Tips menjaga keamanan privasi, meliputi jangan berikan data pribadi untuk akun tidak dikenal, jangan berikan password bagi siapapun, pilih enkripsi yang kuat untuk password usahakan untuk selalu diganti, aktifitar fitur autentikasi dua faktor, serta menyeleksi permintaan pertemanan.

Manusia memiliki banyak pilihan berinteraksi, jadikan ruang digital untuk mengenal budaya yg berbeda, dengan tidak melecehkan suku, agama dengan berkomunikasi dg baik dan memiliki etika yang baik dalam berinteraksi di dunia digital.

Hal penting diperhatikan dalam berekspresi di media sosial, meliputi ujaran tidak mengandung kebencian dan permusuhan, diksi, mimik, SARA, asusila, dan aman.(titi)

Sumber: Rilis Kominfo RI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *