SURABAYA || LINTASNUSANTARA.ID – Mewujudkan peserta didik dapat terjun ke dunia usaha dan dunia industri (DUDI) tentunya kalangan orang tua/wali murid memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah menengah kejuruan (SMK). Salah satunya SMK PGRI 1 Kota Surabaya membekali anak didik dengan materi dasar belajar mulai kelas X.
“Kelas X permulaan kelas awal dari sebelumnya sekolah menengah pertama (SMP) menuju ke SMK. Jadi, peserta didik baru mendapat dasarnya untuk metode pembelajaran di SMK,” kata Waka Humas SMK PGRI 1 Kota Surabaya, Kustiono, S.T., M.M., Senin (22/7/2024).
Mewakili Kepala SMK PGRI 1 Kota Surabaya, Dra. Dwitanti Nuzululliana, M.M., Kustiono mengungkapkan bahwa setelah nanti mereka sudah diberikan bekal ilmu di kelas X otomatis materi dasarnya pasti akan diajarkan. Mulai pengenalan guru produktif, pengenalan materi, pengenalan kejuruan, dan pengenalan bahan nantinya digunakan untuk praktek.
Setelah itu peserta didik baru diperkenalkan semua sampai di akhir kelas X yang otomatis mengacu dasar kejuruan. Supaya nanti memperoleh bekal melanjutkan kelas XI.
“Saat kelas XI inilah, baru materi inti kejuruan. Ini kompetensi dasar akan diajarkan nanti sebelum terjun ke industri,” terang Kustiono.
Menurutnya, ketika terjun ke industri, siswa harus punya kemampuan terlebih dahulu. Sehingga materi pembelajaran dikasihkan pada kelas XI penuh saat terjun di industri pihak sekolah tidak canggung.
“Iya, siswa tidak canggung saat terjun ke industri, Karena industri pun tidak ingin rugi ketika anak belum memahami praktek kerja lapangan (PKL),” ujar dia.
Lebih lanjut Kustiono menyebutkan, syaratnya sekolah kejuruan itu salah satunya PKL yaitu, belajar di industri sesuai kompetensinya masing-masing. Seusai kejuruannya semisal, kejuruan teknik kendaraan ringan (TKR), kejuruan teknik dan bisnis sepeda motor (TBSM), teknik pemesinan (TPM), dan teknik instalasi tenaga listrik (TITL).
“Kita bekerjasama pada perusahaan atau industri bengkel sepeda motor Ahass Honda, operator Bubut, operator CNC, pengelasan, engineering perbaikan dan perawatan AC, operator Eskalator,” jelasnya.
Maka itu, Kustiono menyatakan, anak SMK punya keunggulan bisa kerja di industri dan atau melanjutkan ke perguruan tinggi negeri atau swasta.
“Itu bergantung pada minat dan bakat para siswanya,” ucapnya.
Kustiono mengaku, anak didiknya setelah lulus perusahaan banyak menawarkan untuk bekerja. Muridnya masih sekolah selesai aktivitas ada juga yang ikut bekerja di perusahaan atau industri sesuai kejuruannya.
“Alhamdulillah penawaran sangat baik sekali. Mereka mendapat tawaran pada perusahaan industri meskipun masih sekolah serta mengikuti pelatihan balai latihan kerja (BLK), hingga Dinas Ketenagakerjaan di Surabaya,” tuturnya. (hyt/mnf/amr)







